Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 22 Mei 2011

Human Capital

Sumber daya manusia merupakan dasar utama kekayaan bangsa-bangsa. Modal dan alami sumber daya adalah faktor-faktor pasif produksi, manusia adalah lembaga aktif yang mengakumulasi modal, mengeksploitasi sumber daya alam, membangun sosial, ekonomi dan politik organisasi, dan membawa ke depan pembangunan nasional. Menurut Atmanti (2005), Investasi sumber daya manusia adalah sejumlah dana yang dikeluarkan dan kesempatan memperoleh penghasilan selama proses investasi. Investasi sumber daya manusia dilakukan untuk meningkatkan penghasilan setelah masa investasi berakhir. Investasi dilakukan dalam hal non fisik yang meliputi pendidikan, pelatihan, migrasi, pemeliharaan kesehatan, dan lapangan kerja. Dalam perkembangan selanjutnya, investasi sumber daya manusia disebut dengan istilah human capital.
     Human capital menjadi pembicaraan di kalangan ekonom dunia setelah Theodore dan ekonom lain membahas dampak human capital terhadap pertumbuhan ekonomi. Sumberdaya menusia merupakan salah satu faktor produksi selain modal, sumberdaya alam, dan entrepenuer. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia, maka semakin meningkat pula efesiensi dan produktifitas suatu negara. Modal fisik bisa saja mengalami deminishing return, tetapi ilmu pengetahuan tidak. Solow menekankan kepada peranan ilmu pengetahuan dan investasi sumberdaya manusia dalam memacu pertumbuhan ekonomi (tilaar dalam atmanti, 2005).
     Peningkatan human capital tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Proses investasi memerlukan waktu yang panjang dan perlu memperhitungkan biaya investasi yang dikeluarkan. Untuk pengambilan keputusan, perbandingan biaya investasi dan biaya manfaat perlu dilakukan. Biaya investasi berupa biaya yang dikeluarkan untuk bersekolah dan opportunity cost dari bersekolah yaitu penghasilan yang mungkin diperoleh apabila tidak bersekolah. Sedangkan biaya manfaat berupa penghasilan yang diterima di masa depan setelah masa sekolah selesai. Diharapkan dengan investasi ini, biaya manfaat lebih besar dibandingkan biaya investasi.
Seperti barang modal, pendidikan juga bisa digunakan untuk pengembangan sumber daya manusia dalam proses transformasi sosial ekonomi (olaniyan dan okemadinte, 2008:157). Sebuah penelitian di Amerika yang dilakukan oleh acemoglu (1998) menunjukkan bahwa lulusan sarjana (S1) pada tahun 1970-an memperoleh pendapatan 55 % lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA, sedangkan pada tahun 1998 meningkat menjadi 62%. Hal menjadi sebuah pelajaran bagi pendidikan di indonesia agar dikembangkan untuk menciptakan human capital yang mendukung program pembangunan indonesia.
Berdasarkan karya Schultz  (1971), Sakamota dan Powers (1995), Psacharopoulos dan Woodhall (1997), teori modal manusia bersandar pada asumsi bahwa pendidikan formal sangat penting dan bahkan perlu untuk meningkatkan kapasitas produksi suatu populasi. Singkatnya, teori modal manusia berpendapat bahwa penduduk berpendidikan adalah penduduk produktif. Semakin tinggi kualitas dan kuantitas pendidikan nasional, maka semakin tinggi pula produktifitas nasional. Hal itu juga sesuai dengan hasil penelitian dari Olaniyan dan Okemadinte (2008) yang membuktikan secara empiris dari identifikasi model modal manusia dan temuan menunjukkan bahwa investasi dalam pendidikan berkorelasi positif dengan ekonomi pertumbuhan dan pembangunan.
Empirical evidences of human capital model were identified and findings reveal that investment in education has positive correlation with economic growth and development. Criteria for  the applicability and problems associated with the theory were identified and implications for educational development highlighted.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa human capital sangat penting diimplementasikan di indonesia agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Implementasi human capital yang paling efektif adalah melalui pendidikan. Pendanaan pendidikan menjadi sebuah bentuk investasi jangka panjang dalam rangka pembentukan human capital, salah satu contohnya adalah dana BOS.